top
   
 
Ganti Rugi Lereng Timau Setara Harga Kacang Merah Ini Pelecehan Terhadap Harkat dan Martabat Suku

SI-Amfoang. Uis Take Suku Naibanus Benyamin Banoe kepada wartawan ,  mengaku kesal dan kecewa dengan Pemeritahdalam hal ini pihak LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) lantaran tanah adat milik suku Naibanus seluas 32 HA yang terletak di dataran Sonbai,  Lereng Timau, Desa Faumes  Kecamatan Amfoang Barat Laut, sebagai lokasi pembangunan Observatorium Nasional hanya dihargai dengan nilai ganti rugi 100 Juta Rupiah setara harga kacang merah.Hal itu terungkap dalam rapat bersama dengan  pihak LAPAN tanggal 20 April 2018, atas undangan Dra. Clara Yono Yatini selaku Kepala Pusat Sains Antariksa lewat surat Nomor Und/684/04/2018 bertempat di jalan Tidar 1 Liliba Kupang. Pertemuan tersebut tidak ada kata sepakat, karena diketahui nilai ganti hanya sebesar 100 Juta, lagi pula harus dibagi lagi dengan suku Tabais, dan juga ada pembagian secara adat kepada Raja dan Vetor menurut tata cara adat kata Benyamindengan  ketus.

Putra bungsu dari Alm. Cornelis Barnabas Banoe B.Sc ini dengan rinci mengatakan suku Naibanus terdiri dari beberapa marga didalamnya yaitu, marga Banu, Taemnanu, Kolis, Tamelab, Takaeb, Nofus, Tonfanus, Sabneno dan marga Buknoni. itu jumlahnya mendekati 6 ribu orang. Tanah di  lereng gunung Timau biasa disebut padang sonbai itu milik suku Naibanus yang didalamnya ada marga-marga yang saya sebutkan tadi. Kita sudah cukup kooperatif dengan LAPAN dan Pemerintah Kabupaten Kupang. Kami bukan menolak pembangunan observatorium di wilayah kami, kami setuju dengan pembangunan observatorium itu “ tetapi kami minta negara menghargai kami “ masa negara hanya minta dihargai oleh masyarakatnya” sementara masyarakatnya tidak dihargai oleh negara “  Lebih lanjut menurut Beny, Kami akan menghargai negara, kalau negara juga menghargai kami. Dengan tegas Beny katakan sangat kecewa  dengan nilai ganti rugi tanah suku kami seluas 32 HA  itu hanya100 Juta Rupiah, itu sama dengan melecehkan harkat dan martabat kami suku Naibanus, dan dalam konteks negara, pemerintah tidak menghargai masyarakatnya.  

Kami  akan tetap mempertahankan tanah leluhur kami,  Jangan Samakan nilai ganti rugi tanah suku kami dengan sekilo kacang merah. Alasan pemerintah bahwa itu hutan lindung;  saya mau tanya kepada Pemerintah  siapa yang serahkan? Tunjukan kepada kami bukti berita acara penyerahan secara tertulis itu ? Pemerintah tidak boleh sepihak menetapkan tanah suku kami sebagai hutan lindung, tegas Benyamin.

Ayah tiga putra itu selanjutnya mengatakan,  Dokumen tertanggal 22 April 2015 sebenarnya sudah merupakan isyarat bahwa ada penetapan kawasan hutan lindung secara sepihak dari Pemerintah, tetapi jangan lupa bahwa dokumen itu sudah kami cabut, sehingga secara hukum sudah dinyatakan tidak berlaku. Kami punya bukti alas hak yang kuat.

Aleta Kornelia Baun ketika dimintai pendapatnya mengenai kasus tersebut mengatakan , Saya sebagai Pimpinan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bali-Nusra, yang juga anggota DPRD Propinsi NTT mengetahui bahwa lokasi tanah di lereng Timau adalah tanah adat/tanah suku yang dimiliki dan dikuasai suku Naibanus sejak zaman sebelum  penjajahan belanda dan jepang, serta pada zaman Indonesia merdeka tahun 1945, yang pembuktiannya didasarkan pada adanya kelompok masyarakat adat yang memiliki dan menguasai serta menggarap dan mengerjakan secara tetap dan secara turun temurun sampai dengan saat ini. Dan rupanya suku Naibanus memenuhi persyaratan itu.

Mama Aleta yang selalu menggunakan ikat kepala (pilu) motif Timor itu lebih lanjut mengatakan tanah di lereng Timau merupakan tanah milik suku Naibanus yang telah dikuasai sejak dahulu dimana di atas tanah itu leluhur mereka pernah berdiam, tanah itu yang memberi makan terhadap mereka, di atas tanah itu beraktivitas  dan juga ada orang-orang halus sebagai pelindung mereka, serta pemakaman arwah leluhur mereka; sehingga dirinya mengatakan pihak LAPAN harus kooperatif untuk dapat memberi kompensasi tertentu yang pantas sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga pembangunan observatorium Nasional di lokasi tersebut dapat terlaksana dengan aman, tanpa ada masalah dan lancar.(Yabes Nubatonis, SH)

Kategori : Atambua, Tanggal Post : Sat, 26 May 2018 11:39:33 AM, Kontributor : tim, Dibaca : 259 Kali.
Tinggalkan Komentar :
Komentar yang masuk untuk berita ini [ 0 ]
Isi komentar anda :
Nama :
e-Mail :
Website : http:// (Opsional)
Komentar anda :
Maksimal 200 karakter
Kode Security :
Reload Image
Ulangi kode diatas