top
   
 
LERENG TIMAU DIKUASAI SUKU NAIBANUS SEJAK TAHUN 1800-AN

SI-Atambua. Ditengah hiruk pikuk, pro kontra dan perbicangan tentang Lereng Timau sebagai lokasi pembangunan Observatorium  Nasional terbesar di Asia, ternyata wilayah itu merupakan tempat ritual adat suku Naibanus setiap Tahunnya. Wartawan media ini dalam perbincangan dengan Godlif Yohanis Banu, ST, di rumahnya di Jalan Sabaat Kelurahan Liliba Kecamatan Oebobo Kota Kupang, Kamis, 24 Mei 2018  mengatakan lereng Timau telah diduduki dan dikuasai sejak Tahun 1800-an, hingga saat ini. Dirinya merincikan, leluhur Naibanus mulai dari Kloe Banu, Bokok Loe Banu, Bakis Mau Banu, Bakis Mau Malasi Banu, Kloe Boko Banu, Neon Boko Banu, Keba Banu, Las Boko Banu, Kusi Loe Banu, Saku Koli Banu, Neon Keba Banu, Las Boko Banu, Tae Paut Banu, Las Mau Banu, Piter Cornelis Banu, Johanis Banu, dan Cornelis Barnabas Banu, hingga saat ini diteruskan oleh dirinya bersama dengan Benyamin Banoe, Jakobus Banu, Jakobus Taemnanu, Karel Banus, Osias Banu dan Mesak Kolis, dan Jemy Banu.

Kepada wartawan Putra dari Johanis Banu itu menuturkan Lembaga Adat suku Naibanus bukan baru ada ketika ada rencana pembangunan Observatorium di tanah suku kami di lereng Timau; tetapi lembaga adat Suku Naibanus sudah ada sejak leluhur kami; pergantian kepala suku juga melalui upacara adat. Bedanya, dulu belum ada akta notaris; sekarang karena tuntutan Undang-Undang, sehingga lembaga adat itu harus dengan akta notaris, katanya.

Pria kelahiran 46 Tahun silam itu menambahkan tanah suku Naibanus di Lereng Timau itu ada kuburan leluhur suku Naibanus antara lain kuburan Kloe Banu, Bokok Loe Banu, Bakis Mau Banu, Bakis Mau Malasi Banu, Kloe Boko Banu, Neon Boko Banu, Keba Banu, Las Boko Banu, Kusi Loe Banu, Saku Koli Banu, Neon Keba Banu, Las Boko Banu, Tae Paut Banu, Las Mau Banu dan kuburan Piter Cornelis Banu.  Ditambahkan Godlif bahwa ada an Pupu Bola (Rumah dari akar Pohon) yang dijadikan sebagai rumah atau tempat tinggal leluhur kami secara terus menenur terkahir oleh Piter Cornelis banu; Ada kebun ubi, kopi, jeruk dan kebun jagung; ada mamar siri, hutan bambu betung dan pohon ampupu sebagai induk lebah bersarang, Ada pula ternak berupa kerbau, sapi dan kuda. Ternak kerbau masih ada dan hidup  hingga sekarang diperkirakan sekitar 200 ekor, demikian juga ternak kuda diperkirakan sekitar 100 ekor, dan ternak sapi diperkirakan sekitar 1000 ekor lebih.

Ketika ditanya tentang ritual adat, Pria murah senyum itu, mengatakan Lereng Timau merupakan tempat kami melakukan ritual adat rutin setiap tahun.  Masyarakat suku Naibanus yang terdiri dari marga Banu, Taemnanu, Kolis, Tamelab, Takaeb, Nofus, Tonfanus, Sabneno dan marga Buknoni setiap tahun tumpah ruah disana, tambah Godlif.

Ritual adat itu ditandai dengan menyembelih satu ekor sapi, dan darahnya ditumpahkan ke bumi, seperti yang kami lakukan tanggal 14 April silam. Tujuannya  meminta perlindungan, kekuatan dan keselamatan  dari Uis Neno, alam, dan leluhur, termasuk usaha ternak, pertanian, dan panen madu,  jelas  Godlif mengakhiri percakapan. (Yabes Nubatonis,SH).

 

 

Kategori : Atambua, Tanggal Post : Sat, 26 May 2018 11:46:23 AM, Kontributor : tim, Dibaca : 207 Kali.
Tinggalkan Komentar :
Komentar yang masuk untuk berita ini [ 0 ]
Isi komentar anda :
Nama :
e-Mail :
Website : http:// (Opsional)
Komentar anda :
Maksimal 200 karakter
Kode Security :
Reload Image
Ulangi kode diatas