top
   
 
KEMATIAN STANIS KOLI SANGAT MISTERIUS

Atambua – SI.Kematian Stanis Koli,50 tahun masih menjadi teka-teki dan misterius bagi warga sekitar Dusun Hasmetan Desa Takirin Kecamatan Tastim Kabupaten Belu NTT,karena belum ada bukti yang cukup untuk ditetapkan menjadi tersangka untuk menahan siapa pelaku dibalik tewasnya korban itu.

Demikian dikatakan Kapolsek Wedomu,Ipda.Yoseph Latuan ketika ditemui media ini,di ruang.

Pada kesempatan itu Ipda.Yoseph Latuan menjelaskan bahwa dirinya bersama anggota masih melakukan penyelidikan tentang kasus matinya korban Stanis Koli,yang masih menjadi teka-teki dan sangat misterius ini, baik itu bagi pihak penyidik maupun bagi warga sekitar Hasmetan,apakah dirinya benar jatuh dari pohon atau jurang,atau juga dibunuh oleh orang,ini masih tanda Tanya buat kita semua.

“Sampai dengan saat ini kita masih melakukan penyelidikan terhadap kasus ini,dan masih dalam tahap penyelidikan,baik terhadap keluarga korban maupun terhadap keluarga yang di indikasi bakal menjadi pelaku,itupun kita masih selidiki,karena bukti yang kita dapat belum cukup,sehingga untuk ditetapkan menjadi tersangka itu kita belum bisa pastikan,karena ada indikasi bahwa kalau saja korban mati terbunuh artinya pelaku jelas tidak tunggal,kemungkinan pelaku pasti lebih dari satu,sehingga kita pihak penyidik masih terus mengejar para saksi untuk memberi keterangan,jelasnya. 

Lanjutnya,bahwa memang sebelum kejadian antara korban dengan pemilik sapi sempat ribut,ketika korban menagih utang 250.000 rupiah yang sudah lama dipinjam 16 tahun yang lalu,karena ditagih berulang kali tidak pernah bayar-bayar,akhirnya korban bersama isterinya Magdalena Bui mendatangi   rumah pemilik sapi,Servas Nahak,minggu,18/7/2010 lalu,dan saat korban dan isterinya memaksa mengambil sapi itu,pemilik sapi Servas Nahak sempat melontar kalimat,”o kodi ba krau nee awan wai rua foin o hatene (bawah pi sapi itu nanti satu dua hari ini baru kau lihat akibatnya,atas dasar kalimat ancaman inilah pihak kepolisian menahan pemilik sapi Servas Nahak,di sel tahan Polsek Wedomu.tegasnya.

Atas ucapan pemilik sapi Servas Nahak yang dilontarkan saat awal pertengkaran inilah, kami sebagai penyidik sekarang menahan pemilik sapi di dalam sel tahanan Polsek Wedomu,namun kita belum pastikan apakah dia menjadi tersangka atau tidak,karena bahasa tadi,”kita tidak bisa dapat membuktikan pembicaraan orang itu menjadi bukti, karena secara hukum pembicaraan orang tidak bisa dijadikan alat bukti yang sah,sehingga pemilik sapi kita belum bisa ditetapkan sebagai tersangka atau pelaku,karena belum ada saksi yang bisa mengungkapkan kasus ini,paling tidak salah satu saksi melihat atau menyaksikan langsung kejadian itu,ujarnya.

Untuk itu dirinya sangat mengharapkan kepada keluarga korban agar berusaha menahan diri,janganlah emosi, berilah kesempatan kepada kami sebagai penyidik untuk menyelidiki kasus ini secara tuntas,janganlah kita mau menang sendiri.”Saya harapkan kepada keluarga korban juga untuk membantu para penyidik agar bersama-sama bekerja untuk menggali informasi agar kasus ini cepat atau lambat bisa terungkap,tuturnya.

Sementara pada tempat yang terpisah media ini berhasil menemui pemilik sapi,Servas Nahak yang ditahan di salah satu ruang pemeriksaan mengakui,bahwa dirinya benar mengatakan kepada korban saat sapinya ditarik gara-gara utang 250.000 rupiah yang sudah lama dipinjam sekira 16 tahun itu,”saya bilang o kodi bah au nian krau nee,awan wai rua foin o hatene ( kau bawah pi sapi itu nanti satu dua hari ini baru kau tahu akibatnya),kata Servas  dengan gementarnya.

Lanjut kata Servas,bahwa dirinya tidak tahu sama sekali saat korban mati dan di temukan di hutan Bua’oan itu,karena dirinya di kebun.”Saya tidak tahu sama sekali kejadian itu,karena saya di kebun,saya tahu kematian saudara saya stanis setelah disemayamkan di rumah duka,saya terus terang pa wartawan untuk membuktikan apakah stanis itu dibunuh atau jatuh dari pohon, saya minta supaya korban di visum saja untuk membuktikan kebenarannya.ungkapnya.

Lanjut servas membenarkan bahwa soal kehadiran orang-orang wajah baru yang diduga bermalam di rumah kediaman Romanus Bouk, adalah keluarganya yang datang dari Ponu,dan tidak ada orang yang datang di rumah dari Halioan itu,Tanya saja Thomas Taek omnya Romanus Bouk,dia tahu persis kehadiran mereka itu.

“Saya punya keluarga empat orang itu dari Ponu,mereka datang dan bermalam di rumah Romanus Bouk untuk memberitahukan tentang rumah adat kami,dan yang namanya Domi Hasuk dari Halioan saya tidak kenal dan saya tidak tahu,yang saya tahu hanya,Sarus Taran,Ama Ulu,Marni Mau,dan Lena Bete,semuanya dari Ponu,ungkapnya.

Kalau saja keluarga korban menduga bahwa saya yang otak pelaku untuk membunuh Adik saya stanis itu terserah mereka, karena sebelum matinya Stanis, saya sempat ancam saat mengambil sapi saya itu,”saya bilang sapi itu kau ambil pi nanti satu dua hari ini akan kau lihat akibatnya,setelah itu saya tidak bilang apa-apa lagi,saya langsung ke kebun,di dekat hutan Bua’oan itu. katanya.

Selain Servas Nahak pemilik sapi itu,banyak saksi-saksi telah dipanggil untuk diambil keterangannya,salah satu saksi kuncinya adalah Ny.Theresia Buik,bahwa pada hari kamis tanggal 15/7/2010 siang itu,dirinya hendak ke kebun untuk mencari sayur mayor,dan ketika tiba di kebun Ny.Theresia Buik hendak memetik buah nangka di hutan Bua’oan itu.

Namun dirinya tidak sempat petik buah nangka itu karena anjing piaraan yang dibawanya menggonggong tidak berhenti,sambil was-was Ny.Theresia sempat melihat dengan jelas seseorang tidur dibawah salah satu pohon itu,akhirnya karena ketakutan Ny.theresia langsung turun dari pohon itu langsung lari pulang menujuh kebunnya takut dikira pencuri yang lagi beristirahat karena kelelahan.

“Saya saat di dalam kebun terlihat dengan jelas pemilik sapi Servas Nahak itu lagi jalan mondar mandir didalam kebunnya di dekat Hutan Bua’oan itu,sayapun tidak ada sesuatu yang muncul di benak saya, apa yang sedang terjadi,akhirnya saya cepat-cepat pulang karena takut jangan-jangan saya dikejar pencuri yang lagi istirahat dibawah pohon tadi,apalagi saya seorang perempuan lebih baik cepat pulang ke rumah,terangnya.

Ada juga saksi salah satu anak kandung  pemilik sapi Servas Nahak,ketika diambil keterangannya mengatakan bahwa pada hari kamis,15/7/2010 itu kami semua tidak ada di rumah karena semuanya lagi tanam kacang di Halimodok bersama orangtuanya,sehingga saya tidak persis kematian korban Stanis itu.

Sementara informasi yang beredar,pada hari kamis itu juga Servas ada di lokasi kebunnya di Hali’oan,ada juga yang mengatakan Servas hari itu ada jual sebidang tanah miliknya di Kaen,ada juga yang mengatakan hari itu tanam kacang di dekat pos perbatasan Fatubesi,lalu pertanyaan muncul kalau saja Bukan Servas yang mondar-mandir di dalam kebunnya pada hari kamis,15/7/2010 seperti yang dilihat jelas Ny. Theresia Buik,lalu pada hari yang sama itu,Servas mana lagi yang tanam kacang di Fatubesi dan jual sebidang tanah di Kaen itu?Ini sudah jelas ada pembohongan bahasa,dan siapa yang mengatur semua ini,pasti ada guru yang yang sedang bermain di belakang layar. 

Sementara itu salah satu keluarga korban,Drs.Ignatius Bere yang berhasil dimintai komentarnya tentang matinya korban,menegaskan bahwa kami dari pihak keluarga korban sudah siap untuk menghadapi masalah ini apapun terjadi,kami sudah siap,apalagi pernyataan pemilik sapi Servas Nahak mengatakan bahwa kalau bisa korban digali dan divisum saja,untuk membuktikan kebenarannya,untuk pernyataan ini kami keluarga siap kapan korban mau digali untuk divisum,kalau saja korban digali untuk divisum dan kemudian terbukti korban mati tidak wajar,di dalam salah satu pasal 340 KUHAP yang pernah saya baca mengatakan bahwa barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas neyawa orang lain,diancam karena pembunuhan dengan rencana,dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun penjara,tegasnya.

“Untuk itu saya dan semua keluarga korban siap untuk tidur dan bermalam di kantor polisi,apabila oknum pelaku yang diduga belum terungkap,dan itu sudah komitmen keluarga,dan saya akan mengikuti masalah ini sampai kapanpun,demi kakak kami yang diindikasi mati dengan tidak wajar ini,tandasnya dengan singkat,padat dan jelas.

Paulus Hale Oan,salah satu om kandung korban mengutuk  keras atas matinya korban yang diduga mati dengan tidak wajar,”saya tidak akan ampun dan main-main dengan orang melakukan perbuatan jahat,apalagi hilangkan nyawa orang,baik kalau tidak terbukti,tapi kalau terbukti bahwa ponaan saya mati karena dibunuh,maka meja hijaulah tempat kita untuk berdialog,dan kami keluarga korban sudah siap untuk menghadapi semua resiko itu, tegasnya dengan singkat. (anis ikun).

Kategori : Kriminal, Tanggal Post : Mon, 23 Aug 2010 20:27:40 PM, Kontributor : anis ikun, Dibaca : 2185 Kali.
Tinggalkan Komentar :
Komentar yang masuk untuk berita ini [ 0 ]
Isi komentar anda :
Nama :
e-Mail :
Website : http:// (Opsional)
Komentar anda :
Maksimal 200 karakter
Kode Security :
Reload Image
Ulangi kode diatas