top
   
 
PENYALAHGUNAAN DANA PUAP DINAS BKP3 HARUS TANGGUNGJAWAB

LEMBATA-SI. Penyalahgunaan dana pengembanagan usaha agrobisnis pedesaan oleh pengurus dan petugas penyuluh lapangan ( PPL)  di Kecamatan Lebatukan desa Nikisare  Kabupaten Lembata sebesar Rp. 100.000.000 ( seratus jutua rupiah ) Dalam laporannya Sisko Making kepada wartawan mengatakan bahhwa Dana Rekening kelompok Gapok Tani Mentari Desa Nikisare adalah Rp. 100.000.000. ( seratus juta rupiah) Dia menerangkan bahwa uang tersebut masuk ke rekening 5 Pebuari 2010. Namun dalam proses pencairan dana tersebut tanpa melihat dulu persiapan fisik di  lapangan. Namun setelah uang itu di realisasikan yang di terima oleh anggota hanya Rp. 35.000.000 ( tiga puluh lima juta ).

Sementara yang masih sisa sudah di pakai oleh pengurus kelompok dan petugas penyuluh lapangan sebesar Rp. 65.000.000 ( Enam puluh lima juta rupiah ). Lalu pada bulan April 2010 ada anggota kelompok yang mempertanayakan dana itu yakni Blasisus Sala dan Klemens Kupang. Namun jawaban dari Ketua dan pentugas penyuluh lapangan yakni Heri Manuk bahwa uang tidak bisa di realisasikan apabila fisiknya belum siap. Dalam kelompok Gapok Tani mentari Desa Nikisare Kecamatan Lebatukan ingin megembangkan ternak babi, kambing, ayam, kacang hijau dan kacang tanah. Waktu itu kandang babinya belum siap. Kemudian mereka di suruh untuk mempersiapkan fisik di lapangan. Lalu keduanya mempersiapkan kandang babi itu selama satu minggu. Setelah selesai awal bulan Mei 2010 Blasisu dan Klemens mendatangi ketua kelompok dan petugas penyuluh lapangan untuk mempertanyakan kembali dana tersebut supaya di realisasikan.

Awal bulan Klemen dan Blasius mempertnayakan kembali dana tersebut Suapaya di relaisasikan. Namun yang di realisasikan baru 20 anggota dari 45 anggota. Untuk ternak babi 25.000, untuk ternak kambing Rp. 15.000. ternak ayam satu juta, kacang hijau dan kacang tanah 2.000.000. Semuanya Rp. 35.000.000. Ketua kelompok dan petugas penyuluh lapangan akan merealisasikan uang tersebut pada saat mereka turun ke lapangan, padahal saat itu mereka berada di lapangan.Ternyata itu hanya sebuah alasan untuk menutupi kesalahan yang mereka lakukan. Maka pada tanggal 13 Juni terjadi pertemuan antara pengurus dan anggota kelompok. Pada saat itu Sisko Making mempertanyakan kapan dana itu di realisasikan. Tapi jawaban dari petugas penyuluh lapangan mengunakan nada yang keras dan suara yang Tinggi dengan membuat alasan yang mengada-ada. Pada tanggal 4 Juni 2010 Sisko Making meminta untuk bertemu di anggota dewan untuk membahas masalah ini.

Mereka di terima oleh salah satu anggota dewan yakni bapak Suliman Supander Tapi ketua kelompok dan petugas lapangan tidak hadir pada waktu itu. Sehingga Sisko making menyerahkan persoalan itu kepada anggota dewan. Anggota dewan Bapak Sulaiman Supander menetapkan tanggal Sabtu 19 Juni 2010 untuk bertemu di kantor desa Nikisare. Anggota dewan yang hadir dalam pertemuan itu adalah Bapak Simon Beduli dan bapak Philipus Bediona. Dalam pertemuan itu ketua kelompok dan petugas penyuluh lapangan mengakui bahwa mereka telah memakai uang itu sebesar Rp.65.000.000 dan berjanji akan mengembalikannya tanggal 25 Juni 2010. Namun yang dikembalikan tanggal 25 Juni hanya Rp.2.500.000. Sehingga terjadi perdebatan yang luar biasa. Namun beberapa pertimbangan tokoh masyarakat bahwa uang itu di kembalikan dengan waktu yang bervariasi.

Beberapa perincian pemakaian uang tersebut yakni ketua kelompok memakai dana Rp. 30.000.000 dana akan di kembalikan tangal 25 Juli 2010. Petugas penyuluh lapangan memakai uang tersebut sebsar Rp. 23. 500.000 ( 23 Juta lima ratus ribu rupiah ) dan akan di kembalikan 16 Juli 2010.Sementara yang lain di pinjam oleh bendahara Rp.5.000.000. ( Lima juta rupiah) Sekretaris Rp.3.000.000. Di pinjam oleh Desa 1.500.000 ( Satu setengah juta). Namun uang tersebut sampai saat ini tidak pernah di realisasikan sesuai dengan tanggal yang di sepakati. Akhirnya 5 Agustus 2010 masalah ini di laporkan ke Kapospol Kecamatan Lebatukan dan kapospol melanjutkan ke Kapolres. Tanggal 15 Agustus ada panggilan dari kepolisian untuk mengklarifikasinya dan hasilnya uang itu akan di kembalikan tangal 4 Spetember 2010.

Nmaun sampai saat ini hanya petugas penyuluh lapangan yang merealisasikannya yakni 23.500.000 ( dua puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah ) sementara ketua kelompoknya masih tersisa Rp. 27.000.000 sampai sekarang. Eman selaku anggota kelompok meminta agar hal ini di publikasikan sehingga seluruh masyarakat tahu bahwa ketua Heri Manuk telah mengelapkan uang negara dan harus di tindak secara tegas jika ia tidak bertanggung jawab denga uang yang ada. Dia juga kecewa denga kepal;a Dinas BPP3 yang kurang serius dalam menangani persoalan ini. Sebab menurut dia perbuatan penyalahgunaan uang negara dapat merugikan masayarakat. Masayarakat harus jadi korban katanya. Kepolres Lembata telah memberikan rentang waktu dari 4 Spetember 2010 sampai dengan 13 September 2010.

Dalam perjanjian jika mereka tidak mengembalikan uang tersebut dalam waktu yang di tentukan maka barang milik ketua kelompok baik itu rumah dengan seluruh isinya dapat di jadikan barang kelompok serta sertifikat tanah dan motor yang di milikinya di jadikan aset kelompok. Maka dia mengharapakan agar dinas terkait harus bertanggung jawab. kepada Pihak kepolisian kabupaten lembata agar dapat menyelesaikan persolan ini secera tuntas karena perbuatan merka telah merugikan uang negara. (Vinsen patno)

Kategori : Kriminal, Tanggal Post : Sun, 10 Oct 2010 23:28:45 PM, Kontributor : Vinsen patno, Dibaca : 1767 Kali.
Tinggalkan Komentar :
Komentar yang masuk untuk berita ini [ 0 ]
Isi komentar anda :
Nama :
e-Mail :
Website : http:// (Opsional)
Komentar anda :
Maksimal 200 karakter
Kode Security :
Reload Image
Ulangi kode diatas