top
   
 
Bapak Bedi, Jujurlah!

"SELAIN keterangan saksi yang sudah disampaikan dalam persidangan ini, apakah saksi masih memiliki keterangan lain yang ingin disampaikan, sehingga bisa membantu majelis hakim?"

Pertanyaan itu dilontarkan Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Lewoleba, J.P.LTobing, S.H. M.Hum, kepada Adriana Elisabet Solo, dalam sidang pemeriksaan saksi kasus pembunuhan Yohakim Laka Loi Langodai (55), di PN Lewoleba, Kamis (11/2/2010).

Adriana yang lebih akrab disapa Dela, dihadirkan sebagai saksi atas keterlibatan suaminya Lambertus Bedi Langodai, dalam kasus kematian kakak kandungnya, Yohakim Laka Loi Langodai.

Perempuan berambut keriting, kulit putih dan mengenakan baju merah muda bunga-bunga dipadu celana panjang warna biru tua ini, menanggapi permintaan ketua majelis hakim.

Pengunjung sidang, teristimewa keluarga korban keluarga besar Langodai, sanak famili dan handaitaulan menanti dengan sabar. Apa yang dikatakan wanita paruh bayah ini? "Ingat bapak, (terdakwa Lambertus Bedi Langodai), kalau kamu tahu, kamu dengar, kamu lihat dan kamu rasakan, tolong sampaikan sejujurnya dalam persidangan ini. Keterangan bapak akan sangat membantu majelis hakim," kata Dela, dengan nada tegas.

Ia melanjutkan, "Kamu (Bedi) tetap suami saya. Sejahat apapun kamu, sampai mati pun kamu tetap suami saya. Omong-omong bapak. Tolong, kami punya batin terlalu sakit."

"Bapak tolong omong. Sampaikan secara jujur sesuai dengan hati nurani. Jangan bohongi hati nurani, karena hati nurani tak akan pernah bisa dibohongi. Kita orang beriman, percaya dengan hati nurani kita," kata Dela lagi.

Bedi, mengenakan kemeja lengan panjang warna dasar hitam dipadu bunga-bunga kecil warna kuning, celana kain warna gelap dan sepatu hitam, tak bergeming di kursi pesakitan itu.

Ia mendengar sungguh-sungguh kata hati istrinya itu. Matanya pun terus tertuju ke meja majelis hakim di depannya. Apakah ia meresapi kata hati istri dan pesan dari putranya yang berada di Kota Maumere? Hanya Bedi yang yang tahu.

Para pengunjung yang mendengar dan menyaksikan ketegaran hati istrinya mencurahkan isi hatinya, diam sambil geleng-geleng kepala. Mereka berkata, wanita ini begitu tegar menghadapi kasus kematian kakak iparnya yang melibatkan adik kandungnya.

Semua yang hadir, pria, wanita di sanak famili dan sahabat kenalan dari keluarga Langodai, menitikan air mata mendengar keluhan hati Dela. Saat itu, ketua majelis hakim menyatakan, sidang terdakwa Bedi Langodai, ditutup dan dilanjutkan hari Senin (15/2/2010). Ketika itu, Bedi bangun dan beranjak dari kursi terdakwa menghampiri istrinya yang duduk di bangku panjang di belakangnya.

Dua tangannya yang kokoh, memegang bahu istrinya. Dengan membungkukan badannya, pria tinggi tegap yang akrab disapa Vanderbed oleh kalangan sahabat kenalanya ini, memegang bahu istrinya lalu mencium wajahnya.

Dela berurai air mata. Pengunjung pun menangis. Tapi, ketika Bedi mengangkat muka hendak pamit, ia lalu dicemooh. Drama mencapai ending. Mereka pun berpisah. Dela berjalan keluar melalui pintu sebelah barat ruang sidang. Sedangkan Bedi lewat pintu sebelah timur.

Suasana kian haru, tatkala saudara sepupu Bedi menunggu dan menjemput Dela di depan pintu dan membawanya pergi menenangkan pikirannya di ruangan mediasi. Dalam sidang pemeriksaan saksi itu, Dela mengakui kepada majelis hakim, bahwa sebelum tampil di sidang itu, pada Selasa (9/2/2010), ia mengunjungi Bedi di kamar tahanan Polres Lembata.

Dalam pertemuan itu, Dela mengaku, mendesak Bedi supaya berkata terus terang kepada majelis hakim, apa yang diketahuinya dari kematian kakak kandungnya, Yohakim Langodai. Namun Bedi memilih diam.

Majelis hakim juga menanyakan kondisi anaknya. Ibu dari seorang putra ini, menuturkan bahwa anaknya kini berusia 12 tahun dari pernikahan dengan Bedi tahun 1997. Sejak Bedi ditahan pertengahan tahun 2009, Dela dan putranya pilih hengkang ke Maumare. Mereka menumpang di rumah keluarga Bedi di sana dan putranya bersekolah di sana.

Dela menyampaikan ungkapan isi hati dan pesan putranya kepada bapaknya. Tentang niat putranya bersekolah di seminari dan ingin menjadi pastor. Ketika ibunya hendak ke Lewoleba, sang anak menitipkan kerinduan dan pesan kepada ayahnya, Bedi.

Seperti anak-anak lainnya, kata Dela, putra mereka rindu berkumpul bersama ayahnya. Ia juga tahu ayahnya ditahan karena terlibat kematian bapak besarnya. Ia pesan kepada ayahnya Bedi. "Kalau bapak (Bedi, red) tahu, bapak omong ka! Saya mau masuk seminari," kutip Dela menirukan anaknya.

Dela menuturkan niat hati dan keluhan anaknya, membuatnya sedih dan berurai air mata. Pengunjung dan sanak famili yang tak tega ikut-ikutan menangis merasakan kesedihan hati Dela. Keinginan anaknya menjadi pastor, lanjut Dela, bermula ketika ia bersama anaknya ke Maumere melewati salah satu ruas jalan dan tertulis Seminari Bunda Maria Segala Bangsa.

Sang anak bertanya kepadanya. "Seminari itu apa? Dela menjawab, seminari itu sekolah untuk menjadi pastor. Sejak itu, keinginan anaknya muncul dan dia tidak pernah mau kompromi untuk sekolah di sekolah lanjutan lainnya.

Saat itu, Dela menyampaikan masalah yang sedang dihadapi ayahnya, dan itu akan menjadi hambatan bila sekolah ke seminari. Biaya pendidikan yang tinggi dan nilai rapornya yang pas-pasan, juga pasti akan menghambatnya.

Namun sang anak tak mau peduli. Keinginannya menggebu-ngebu untuk masuk seminari. Melihat itu, Dela pun menemui salah satu pastor paroki di Kota Maumere, menyampaikan niat hati anaknya. Penjelasan pastor melegakan hati. Bahwa kasus yang menimpa ayahnya, tak akan dikait-kaitan dengan keinginan anak sekolah di seminari.

Pernyataan itulah yang membesarkan hati dan membuat semangatnya bangkit. Pada Maret mendatang, anaknya akan mengikuti testing penerimaan murid seminari.

Apakah sikap diam Vanderbed menanggapi keluhan hati istri dan anaknya menjadi tanda ketidaktahuannya siapa pelaku pembunuhan kakaknya? Ataukah bathinnya memberontak karena ia menyembunyikan sesuatu? Hanya Vanderbed yang tahu.

Namun, sekokoh apa pun pertahanan batin dalam menyembunyikan sesuatu yang 'busuk' dari kematian Yohakim, hati nurani tak pernah bisa dibohongi. Saatnya nanti, hati nurani akan berkata jujur. Mudah-mudahan dari persidangan kasus pembunuhan yang paling menyita perhatian ini, akan ada lagi kejutan yang membuat terang kasus ini.

Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/43098

Kategori : Kriminal, Tanggal Post : Fri, 12 Feb 2010 15:32:11 PM, Kontributor : Admin, Dibaca : 2162 Kali.
Tinggalkan Komentar :
Komentar yang masuk untuk berita ini [ 0 ]
Isi komentar anda :
Nama :
e-Mail :
Website : http:// (Opsional)
Komentar anda :
Maksimal 200 karakter
Kode Security :
Reload Image
Ulangi kode diatas