top
   
 
Korban Rokatenda Akibat Warga Tidak Patuhi Larangan

Maumere-SI. Koordinator Pos Pemantau Gunung Api Iya di Ende, Petrus Tiba mengatakan jatuhnya korban jiwa dalam letusan Gunung Rokatenda pada Sabtu (9/8) dini hari, akibat warga tidak mematuhui larangan.

"Sejak Gunung Rokatenda mulai menunjukkan aktivitas pada 2012 lalu, masyarakat sudah dilarang untuk memasuki zona merah, karena membahayakan keselamatan jiwa jika terjadi letusan, tetapi warga tidak mematuhuinya. Itulah yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa," kata Petrus Tiba, Rabu.

Petrus Tiba dikonfirmasi terkait peringatan untuk warga sebelum letusan Gunung Rokatenda di Pulau Palue yang menyebabkan jatuhnya empat korban jiwa dan satu hilang, serta lainnya mengalami luka bakar karena terkena lahar panas.

Petrus Tiba mengatakan, saat terjadi letusan, ada warga Palue yang berada di jalur merah. Mereka tertidur saat pulang melaut.

Menurut dia, jika semua warga mematuhui rambu-rambu yang sudah ditetapkan, maka kemungkinan jatuhnya korban jiwa sangat kecil, karena jalur yang dilalui lahar panas saat terjadi letusan berada pada radius sekitar tiga kilometer.

"Saya baru saja kembali dari Pulau Palue. Semua warga yang berada di jalur merah sudah dievakuasi ke titik aman," katanya.

Dia berharap, peristiwa letusan ini dapat menyadarkan masyarakat untuk tidak lagi menempati desa-desa yang berada di daerah berbahaya.

Gunung Rokatenda merupakan gunung berapi komposit (stratovolcano) yang pernah meletus pada 2 dan 3 Februari 2013.

Gunung Rokatenda atau juga disebut Gunung Paluweh adalah sebuah gunung api yang terletak di Pulau Palue, sebelah utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Gunung yang bertipe strato itu merupakan lokasi tertinggi di Pulau Palue dengan ketinggian 875 mdpl. Gunung ini secara geografis terletak di koordinat 121 42' bujur timur dan 8 19' lintang selatan.

Letusan terhebat terjadi pada 4 Agustus-25 September 1928, yang sebagian besar terjadi karena tsunami menyusul gempa vulkanik. Penduduk Palu'e saat itu sebanyak 266 jiwa.

Letusan terakhir terjadi pada tanggal 23 Maret 1985 dengan embusan abu mencapai 2 km dan lontaran material lebih kurang 300 meter di atas puncak.

Setelah 20 tahun (1985--2005) senyap, pada tanggal 16 Januari 2005, Rokatenda kembali menunjukkan aktivitasnya.

Kategori : Flores, Tanggal Post : Thu, 15 Aug 2013 15:06:27 PM, Kontributor : Tim, Dibaca : 1223 Kali.
Tinggalkan Komentar :
Komentar yang masuk untuk berita ini [ 0 ]
Isi komentar anda :
Nama :
e-Mail :
Website : http:// (Opsional)
Komentar anda :
Maksimal 200 karakter
Kode Security :
Reload Image
Ulangi kode diatas