top
   
 
Tidak Ada Prajurit TNI Terlibat Penyelundupan

Atambua-SI. Komandan Batalyon Infanteri 743/PSY Mayor Inf Budi Prasetyo menegaskan tidak ada anggota prajurit TNI yang bertugas sebagai Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Timor Leste terlibat dalam aksi penyelundupan bahan bakar minyak ke Timor Leste.

"Saya sudah ingatkan kepada seluruh anggota Satgas Pamtas RI-RDTL dari Yonif 743/PSY (Pradnya Samapta Yudha) untuk tidak coba-coba terlibat dalam aksi penyelundapan. Jika kedapatan dan terbukti, akan saya tindak tegas," kata Mayor Budi di Markas Sektor Satgas Pamtas RI-Timor Leste di Atambua, Kamis (3/10).

Dia mengatakan hal itu ketika ditanya Antara mengenai antisipasi dan pengamanan yang dilakukan Satgas Pamtas RI-Timor Leste untuk mencegah kemungkinan keterlibatan anggota dalam aksi penyelundupan BBM ke Timor Leste, yang sampai saat masih sering terjadi.

Penyelundupan BBM yang terjadi ke negeri seberang masih marak terjadi di sejumlah wilayah perbatasan kedua negara oleh masyarakat. Hal ini ditengarai juga menjadi 'lahan' bagi aparat dengan menjadi penopang (back up) aksi tersebut.

Mayor Budi yang juga adalah Komandan Satgas Pamtas RI-Timor Leste itu mengatakan TNI hadir di perbatasan, harus menjadi penjaga dan pemberi rasa nyaman dan aman bagi masyarakat, selain menjalankan tugas pokok sebagai penjaga keutuhan dan kedauluatan NKRI.

Karena itu, lanjut dia, pelaksanaan tugas yang sedang diemban itu, harus dilakukan secara serius dan bertanggung jawab, dan tidak menelingkung sebagai penopang, perbuatan jahat terhadap penyelundup.

"Tugas penghalau untuk meredam terjadinya penyelundupan BBM dan sejumlah barang lainnya ke Timor Leste, terus dilakukan dengan patroli rutin menggunakan pola dan intensitas waktu yang berbeda serta diatur tersendiri," ujarnya.

Dalam beberapa waktu sejak bertugas menjadi Satgas Pamtas RI-Timor Leste pada 15 September 2013, anggota Satgas telah melakukan penangkapan dan mengamankan sedikitnya 700 liter BBM yang hendak diselundupkan ke Timor Leste.

Hal itu, kata dia, menjadi bukti nyata bahwa Satgas Pamtas RI-Timor Leste dari Yonif 743/PSY tidak pernah mentolerir tindakan penyelundupan, dan tidak akan mau terlibat dalam aksi pelanggaran hukum tersebut.

Diakuinya, aksi penggagalan yang dilakukan oleh prajurit Satgas Pamtas dari Yonif 743/PSY itu, juga berkat kerja sama dan informasi dari masyarakat.

"Untuk itu, kerja sama dengan masyarakat serta sejumlah aparat lainnya, menjadi penting untuk bisa meminimalisir atau menghilangkan aksi penyelundupan dari Indonesia ke negara bekas provinsi ke-27 Indonesia itu," katanya.

Keterbatasan personil, lanjut Budi, telah membuat Yonif 743/PSY menerapkan pola hubungan kemanunggalan prajurit dengan masyarakat, dengan sejumlah kegiatan sosial kemasyarakatan, baik bersifat edukasi, kesehatan, pertanian serta sejumlah kegiatan sosial lainnya.

Dengan pola tersebut, lanjutnya, masyarakat khususnya yang berada di daerah perbatasan bisa mengerti dan mendapatkan pengalaman baru untuk menata kehidupan ekonominya secara lebih baik, tanpa harus terlibat melakukan kegiatan ilegal dengan membantu melakukan penyelundupan BBM maupun barang lainnya termasuk sembako ke Timor Leste.

"Kalau sudah ada kerja sama dengan masyarakat, semua upaya penyelundupan pasti akan bisa diatasi. Masyarakat tentu akan melaporkan aksi penyelundupan yang terjadi di sekitarnya kepada Satgas Pamtas," katanya.

Dia mengakui, aksi penyelundupan BBM oleh masyarakat dilakukan dalam kondisi keterpaksaan, karena tuntutan hidup.

Karena itu, kerja sama serta pola kemitraan yang akan dibangun oleh Satgas Pamtas diharap bisa menjadi langkah maju, sekaligus penyadaran bagi masyarakat untuk tinggalkan niat menyelundupakan barang khusus BBM ke Timor Leste.

Kategori : Atambua, Tanggal Post : Sat, 05 Oct 2013 00:37:44 AM, Kontributor : Tim, Dibaca : 1260 Kali.
Tinggalkan Komentar :
Komentar yang masuk untuk berita ini [ 0 ]
Isi komentar anda :
Nama :
e-Mail :
Website : http:// (Opsional)
Komentar anda :
Maksimal 200 karakter
Kode Security :
Reload Image
Ulangi kode diatas