top
   
 
Dubes Uni Eropa Tinjau Program Uni Eropa di Flores

Labuan Bajo-SI. Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Olof Skoog dan Kepala Bagian Kerjasama Delegasi Uni Eropa, Franck Viault, mengujungi kabupaten Sikka, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dari tanggal 15 sampai 17 Oktober 2014.

Kunjungan ini dalam rangka meninjau lokasi-lokasi dan mengevaluasi proyek yang didanai Uni Eropa,di kabupaten Sikka dan Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat. Kunjungan ini diselenggarakan bersama para mitra proyek Uni Eropa, Badan PBB untuk Anak (UNICEF), Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Yayasan Indecon dan didukung oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka dan Pemkab Manggarai Barat.
“Bagi Uni Eropa, provinsi NTT adalah salah satu daerah sasaran terpenting dalam kerjasama pembangunan antara Uni Eropa dan Indonesia. Saat ini sejumlah proyek dengan bantuan hibah dan mencakup berbagai bidang tengah berlangsung di NTT, seperti kesehatan ibu dan anak, pendidikan dasar, pemberdayaan ekonomi perempuan dan masyarakat miskin, kelompok marjinal, ekowisata dan dukungan untuk industri kerajinan tenun,”jelas Duta Besar Uni Eropa, Olof Skoog.

Kepada wartawan, di Hotel Jayakarta Labuan Bajo, Olof Skoog mengatakan, kunjungan selama tiga hari, bertujuan untuk mengevaluasi dan memperoleh masukan langsung mengenai pelaksanaan ketiga program yang didanai oleh Uni Eropa yang diantaranya;  Pertama, Keamanan Gizi Ibu dan Balita di Asia (Maternal and Young Child Nutrition Security in Asia - MYCNSIA) di Sikka Maumere, Kedua, Pengembangan Kapasitas Standar Pelayanan Minimal (Minimum Service Standard Capacity Development Programme – MSS-CDP) di Sikka, Maumere, Ketiga, Inovasi Pengembangan Ekowisata Flores untuk Perdagangan Berkelanjutan” (Innovative Indigenous Flores Ecotourism for Sustainable Trade - INFEST) di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Menurut Olof Skoog, melalui proyek MYCNSIA, Uni Eropa bermitra dengan UNICEF guna mendukung negara-negara di Asia dalam menerapkan komitmen terhadap upaya global peningkatan gizi atau Scaling-Up Nutrition (SUN).

Dana yang dialokasikan Uni Eropa untuk MYCNSIA di Indonesia sekitar 4,5 juta euro, untuk dilaksanakan di tiga daerah sasaran yaitu Sikka, Klaten dan Jayawijaya. MYCNSIA bekerja sama dengan pemerintah dan mitra-mitra di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten.

Penerima manfaat langsung proyek ini adalah ribuan anak dan ibu hamil di tiga kabupaten yaitu Klaten di Jawa Tengah, Sikka di NTT dan Jayawijaya di Papua. Ketiga kabupaten ini dipilih mewakili tipologi di Indonesia: Klaten memiliki prevalensi anak kerdil yang rendah, tetapi dengan jumlah anak kerdil yang sangat besar karena padatnya populasi di daerah ini, Jaya wijaya merupakan kabupaten dataran tinggi yang masih jauh tertinggal dibanding kabupaten-kabupaten lainnya di Indonesia dalam banyak indikator kesehatan dan gizi, sementara Kabupaten Sikka adalah daerah pesisir yang memiliki prevalensi anak kerdil tertinggi di Indonesia.

"Alasan Sikka dipilih, karena merupakan kabupaten di daerah pesisir dengan tingkat prevalensi stunting (kerdil) tertinggi di Indonesia. Secara umum, prevalensi anak kerdil di provinsi NTT dan lima provinsi lain di Indonesia masih jauh di bawah tingkat prevalensi nasional dan bahkan termasuk dalam kategori mengkhawatirkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)," ungkap Olof.

program MYCNSIA di tahun 2011 Untuk menekan tingkat malnutrisi di Indonesia dan negara-negara lain di kawasan Asia, Uni Eropa dan UNICEF meluncurkan program tersebut, untuk memperbaiki kondisi keamanan gizi ibu dan balita. Proyek ini bertujuan untuk mengurangi jumlah kekerdilan pada balita berusia dibawah tiga tahun hingga 5% dan mengurangi jumlah ibu hamil dan balita usia 6-35 bulan yang menderita anemia atau kurang darah sampai 15%. Uni Eropa mengalokasikan dana hibah 5,65 juta euro selama periode 2011-2015.

Dubes Olof Skoog menuturkan, Program MSS-CDP di Kabupaten Sikka, karena daerak ini merupakan satu dari 110 kabupaten dan kota di Indonesia yang mendapatkan bantuan teknis dari MSS-CDP, proyek pendidikan yang didanai oleh Uni Eropa dan dilaksanakan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB).

MSS-CDP adalah program bantuan teknis yang didanai Uni Eropa dan diimplementasikan oleh ADB. Program ini diharapkan dapat membantu upaya Pemerintah Indonesia dalam memperbaiki sistem pendidikan dasar dan dalam menangani kesenjangan antar daerah dalam layanan pendidikan. Program empat tahun ini (2014-2018) mencakup 110 kabupaten dan kota di 16 provinsi, dengan total hibah dari Uni Eropa sebesar 37,2 juta euro. Untuk Kabupaten Sikka, hibah Uni Eropa menjadi dorongan yang besar dan penting bagi pemerintah kabupaten dan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman terhadap Standar Pelayanan Minimal (SPM). Sebuah survey dasar terhadap sekolah dasar dan sekolah menengah pertama telah berhasil dirampungkan tahun ini. Sikka berhasil mengikutsertakan sekolah-sekolah (119) sebagai sampel survey.

NTT menduduki peringkat ke-31 – dari 33 provinsi – dalam Indeks Pembangunan Manusia secara nasional pada tahun 2012 dan Sikka terpilih untuk mendapatkan bantuan karena angka tuna aksara dan angka putus sekolah yang tinggi.

Rata-rata anak di Sikka hanya mengenyam pendidikan formal di sekolah selama 6,5 tahun dan 8% dari penduduk Sikka adalah tuna aksara. Program MSS-CDP di Sikka akan terfokus pada peningkatan kapasitas Standar Pelayanan Minimal di tingkat pendidikan dasar di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka dan instansi-instansi terkait, sekolah, guru, kepala sekolah, pengawas sekolah. Selain itu juga terfokus bagi masyarakat untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan advokasi.

“Uni Eropa bekerjasama dengan kementerian-kementerian terkait, Pemerintah Daerah, UNICEF, ADB, serta masyarakat setempat dan organisasi-organisasi masyarakat madani dalam menjalankan program-program ini. Dukungan Uni Eropa untuk sektor pendidikan dasar dan kesehatan diharapkan dapat membantu upaya Pemerintah dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di provinsi NTT yang sampai saat ini masih tertinggal,” kata Duta Besar Skoog.

Kepala Bagian Kerjasama Delegasi Uni Eropa, Franck Viault menambahkan, Proyek ketiga, Inovasi Pengembangan Ekowisata Flores untuk Perdagangan Berkelanjutan” (Innovative Indigenous Flores Ecotourism for Sustainable Trade) INFEST, merupakan kegiatan berskala kecil yang diarahkan pada pengembangan ekonomi daerah dan dilaksanakan oleh Yayasan Indecon. INFEST menekankan pentingnya pendekatan akar rumput dalam mengembangkan destinasi-destinasi ekowisata di Flores. INFEST bertujuan untuk mendukung kegiatan para pelaku non-pemerintah seperti masyarakat lokal dan usaha pariwisata lokal, serta dengan Pemerintah Daerah dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan sebagai salah satu sektor pembangunan ekonomi daerah, sekaligus memperbaiki mata pencaharian masyarakat dan menanggulangi kemiskinan.

INFEST merupakan proyek tiga-tahun (2013-2015) yang dikelola oleh Yayasan Indecon dan berfokus pada perbaikan kualitas tujuan ekowisata, institusi dan perencanaan desa, manajemen pariwisata di desa/daerah, dan pengembangan kapasitas. INFEST dilaksanakan di lima desa (Wae Sano, Liang Ndara, Tado, Wae Rebo dan Bena) dan dua kota (Labuan Bajo dan Bajawa) di Pulau Flores. Kegiatan-kegiatan proyek mencakup:

1.Pengembangan kapasitas layanan pemandu ekowisata lokal
2.Pengembangan produk ekowisata berkualitas tinggi di desa-desa penerima manfaat program
3.Pengembangan penetapan harga dan strategi pemasaran bersama
4.Pembentukan badan pariwisata dan sistem administrasinya di desa-desa penerima manfaat program
5.Pengembangan rencana pariwisata desa yang berdasarkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan program nasional untuk pengentasan kemiskinan.

“Keterlibatan masyarakat adalah inti dari INFEST sehingga mereka dapat secara aktif mendukung Pemda dalam dialog kebijakan, proses pengambilan keputusan dan dalam melaksanakan kegiatan pembangunan, baik di tingkat desa, kabupaten maupun provinsi. Kami sangat senang mengetahui perkembangan proyek ini, yang telah berkontribusi secara signifikan pada peningkatan jumlah wisatawan, produk lokal berkualitas, jumlah pemandu wisata lokal yang memperoleh pelatihan dan sebagainya,”Program INFEST didukung oleh program hibah dari Uni Eropa "Non-State Actors and Local Authorities in Development," jelas Franck Viault.

Program INFEST didukung oleh program hibah dari Uni Eropa "Non-State Actors and Local Authorities in Development" (NSA-LA). Program ini bertujuan untuk mendukung upaya skala kecil dan aksi inovatif pelaku non-pemerintah, terutama untuk mendukung otoritas lokal dalam mencapai Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) dan mengentaskan kemiskinan. Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi pelayanan dasar bagi masyarakat miskin dan marjinal, serta membantu pemberdayaan pelaku non-pemerintah melalui proses tata kelola pemerintahan daerah yang partisipatif. Selama periode 2007-2011, NSA-LA telah membantu 23 program di Indonesia dengan total hibah sebesar 6,13 juta euro.  (TIM)

Kategori : Flores, Tanggal Post : Fri, 17 Oct 2014 10:25:08 AM, Kontributor : TIM, Dibaca : 1348 Kali.
Tinggalkan Komentar :
Komentar yang masuk untuk berita ini [ 0 ]
Isi komentar anda :
Nama :
e-Mail :
Website : http:// (Opsional)
Komentar anda :
Maksimal 200 karakter
Kode Security :
Reload Image
Ulangi kode diatas