top
   
 
Prosesi Tri Harta Iman “Keluarga Sebagai Gereja Rumah Tangga”

Atambua-SI.  Wujud penghormatan umat  Paroki Katedral  Sta.Maria Immaculata Atambua  terhadap Tri Harta Iman  Katolik Yakni Kitab Suci, Sakramen Maha Kudus dan Patung Bunda Maria yang di nyatakan melalui prosesi  Tri Harta Iman mengelilingi Lingkungan Se-Paroki Katedral Atambua Rabu,7 Oktober 2015 dalam suasana Doa dan nyanyian puji-pujian. Tri Harta Iman tersebut, di arak oleh ribuan umat, para Imam, para Suster, Frater dari dalam Gereja Katedral menuju  V  stasi yang telah di persiapkan oleh panitia  perayaan iman.Romo Kristianus Falo,Pr saat ibadat pembuka  sebelum prosesi mengatakan, prosesi tahun 2015 ini merupakan prosesi  tahun yang ke-30.ini berarti prosesi Tri Harta Iman merupakan suatu tradisi yang sudah membudaya, kekhasan Umat Paroki Katedral  Atambua, yang di harapkan akan berlanjut  turun-temurun. Menurut Romo Kris, Umat Paroki Katedral, memilih ketiga Harta Iman ini karena  ketiganya tidak terpisahkan. Pada mulanya  adalah Firman (Kitab Suci) firman itu telah menjadi Manusia dan tinggal di antara kita (Sakramen Maha Kudus) dan Dia datang dalam dan melalui kandungan se orang Ibu (Bunda Maria) inilah warisan Harta Surgawi bagi kita,  kata pastor rekan  Paroki  katedral  ini.

 

Prosesi Tri Harta Iman  : Alkitab, Patung Bunda Maria, Sakramen Maha Kudus di arak dalam satu waktu

Para peziarah Tri Harta Iman tersebut , berarak menuju stasi demi stasi dan setiap stasi di adakan ibadat sabda oleh para Imam. Secara umum tema yang di angkat dalam prosesi tahun ini adalah  ‘’Keluarga Kristiani yang melayani seturut sabda Allah’’dan sub tema yang di usung di stasi I di Lingkungan St. Andreas Halifehan  yakni   ‘’Yesus model pelayanan kita’’ menurut Pater Marcelino Leo Lando Sch.P,  dalam kotbahnya di stasi I mengatakan Selama hidup-Nya  Yesus mencurahkan seluruh hati,tenaga dan budi-Nya untuk melayani. Ia mengajar banyak orang, menyembuhkan orang sakit dan mengampuni para pendosa. Prinsip Yesus, ia datang bukan untuk di layani, melainkan untuk melayani. Dalam hidup kita banyak pelayanan yang kita lakukan untuk orang-orang di sekitar kita. Terkadang pelayanan yang kita lakukan hanya karena tugas semata-mata  dan bukan pelayanan dengan hati. Sebagai manusia pelayanan kita penuh maksud  dan cendrung mengutamakan teman, keluarga , suku, golongan dan aneka pertimbangan  dunia. Singkatnya saya melakukan sesuatu, yang penting ada imbalannya, ungkap  Pater Marcel dari Ordo pendidikan ini.

 Sementara itu Romo Stefanus Boisala,Pr  di stasi II di Lingkungan Sta.Elisabeth Tenukiik  Barat dengan sub tema  ‘’Saling Melayani di dalam Keluarga Kristiani’’. Dalam homilinya Romo Stef mengatakan Keluarga adalah Gereja rumah tangga. Sebagai gereja rumah tangga di zaman ini, keluarga mengalami belbagai tantangan yang dapat menggoyahkan keutuhan rumah tangga. Hal ini disebabkan karena kurangnya kasih dan semangat pelayanan dalam rumah tangga. Lebih lanjut pastor Paroki Katedral ini menegaskan  Suami - Istri dan anak-anak saling menuntut untuk di layani. Hadirnya Bapak dan Mama adalah bukti Cinta Tuhan. Mereka adalah orang tua bukan termakan usia dan mereka pertama kali menerima kita dengan orang lain dalam kehidupan ini. Bapak dan Mama melahirkan kita di dunia, mengajari kita berbicara dan ajari kita berjalan, sungguh kita sudah merasakan pelayanan kasih dari Bapak dan Mama, tandas Romo Deken Belu Utara keuskupan Atambua ini.

Di stasi ke III  di Lingkungan Ratu Rosari Tenukiik dengan sub tema  ‘’Keluarga Melayani di dalam Gereja’’ Romo Yosep Ukat,Pr   dalam renungannya mengatakan dalam keluarga-keluarga Katolik, sering kita menemukan dua karakter pelayanan yaitu pelayanan semata-mata sosial dan pelayanan semata-mata rohani. Dalam kehidupan keluarga  kita menemukan bahwa ada keluarga yang sangat antusias memberikan perhatian pada sumbangan finansial, materi dan tenaga, tetapi tidak pernah mengikuti kegiatan liturgi atau rohani. Dan ada keluarga hanya memberikan perhatian pada Doa dan Ekaristi tetapi kurang melibatkan diri dalam karya-karya Gereja seperti  kerja bakti, latihan koor, doa rosario dalam kelompok, pendalaman iman dan karya sosial lainnya. Bahkan ada keluarga katolik yang sungguh acuh tak acuh dan tidak terlibat sama sekali melayani di dalam Gereja  ujar Romo Yosep yang juga  pengajar di SMA Surya Atambua ini.