top
   
 
Sejarah Lahirnya Ritual Adat DAB”BA Di Kabupaten Sabu Raijua

Oleh : JEFRISON HARIYANTO FERNANDO

Ritual adat DAB”BA merupakan salah satu ritual adat yang sangat populer dikalangan masyarakat Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Ritual ini menjadi populer karena menampilkan nilai-nilai budaya yang sangat sakral serta menjadi daya tarik masyarakat Sabu Raijua untuk mengikuti kegiatan adat  tersebut karena hanya di lakukan dua hari sekali dalam waktu satu tahun.

Dalam kegiatan DAB”BA,  akan dilakukan acara Sabung ayam secara adat dari beberapa kelompok yang dalam bahasa Sabu di sebut ADA sebagi representasi dari suku-suku yang ada di Sabu Raijua.

Ritual adat DAB’BA akan dilakukan di masing-masing  wilayah adat sesuai dengan perhitungan kelender  adat, dimana Sabu Raijua terbagi dalam lima wilayah adat yaitu Wilayah Adat Raijua, Wilayah Adat Liae, Wilayah Adat Seba , Wilayah Adat Mehara dan Wilayah Adat Dimu.

Pelaksanaan ritual adat DAB’BA akan dilaksanakan di dua tempat yang berbeda selama dua hari dengan perhitungan pelaksanaan hari pertama  akan dilaksanakan pada besok hari  setelah bulan purnama yang dalam bahasa kelender adat Sabu Raijua di sebut Hepe.

Hape, dalam perhitungan kelender masehi jatuh pada tanggal 16 bulan berjalan sedangkan hari ke  dua akan dilaksanakan pada hari ke dua setelah bulan purnama yang dalam bahasa kelender Adat Sabu dikenal dengan Due Pehape, dalam perhitungan kelender masehi jatuh pada tanggal 17 bulan berjalan.

Tempat yang dijadikan arena Sabung ayam Dab”ba akan dilaksanakan di sebuah arena yang skaral yang di Sebut DARA NADA. Kegiatan hari pertama akan dilaksanakn di tempat yang namanya KOLO GOPO  yang merupakan sala satu kompleks perkampungan adat, yang terletak di Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. 

Kegiatan Sabung ayam DAB”BA hari ke dua akan dilaksanakan di DARA NADA KOLO RAME yang merupakan arena Sabung ayam yang letaknya tidak jauh dari KOLO GOPO  dan berada di Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua.

Upacara Adat DAB”BA  ini lahir setelah masyarakat Sabu Raijua sadar akan pentingnya Hak Asasi Manusia karena pada zaman dulu di Sabu Raijua selalu terjadi perang antar Suku serta perang tanding antara masyarakat wilayah Adat yang satu dengan Masyarakat Wilayah Adat yang lainya.

Pada zaman dahulu di wilayah adat Liae hiduplah dua orang tokoh sakti yang bernama NANGNGI LAY dan HARI DJUDA, mereka berdua menjadi orang yang di segani pada suku masing-masing, oleh karena itu mereka mulai sadar ketika  suku-suku terus menerus berperang maka semakin hari generasi mereka akan punah karena banyak yang gugur di medan pertempuran, sehingga pada suatu hari mereka memutuskan untuk duduk bersama seluruh anak suku untuk melakukan musyawarah mufakat dan hasilnya adalah mereka ingin mengakhiri perang antara manusia dengan manusia dan ingin diganti dengan perang antar binatang dalam hal ini ayam.

Keputusan untuk mengakhiri perang manusia dengan manusia itulah menjadi awal mula terciptanya ritual adat DAB”BA berupa Sabung ayam Adat di Kabupaten Sabu Raijua;

Sebagai bentuk dari perwakilan suku-suku yang berperang maka disepakati pula dalam kegiatan DAB’BA untuk membentuk dua kubu yaitu kubu atas  yang disponsori oleh HARI DJUDA  dan kubu bawah yang disponsori oleh NAGNGI LAY. 

Pada kubu atas terdiri atas beberapa kelompok  dalam bahasa sabu di sebut dengan ADA sebagai representasi dari beberapa suku yang berperang, begitu pula sebaliknya pada kubu bawa. Kelompok atau ADA yang termasuk dalam kubu atas berupa ADA DAB’BA, ADA GOPO, ADA KOTA HAWU, dan ADA RAE KEWORE, sedangkan kubu bawah  akan diwakili oleh kelompok atau ADA  EIKO, ADA RAJA MARA, ADA RAE WIU, ADA HULUI dan ADA EI TEDE.

Ritual Adat DAB’BA tidak sekedar ritual biasa yang sembarang dilakukan dimana saja dan kapan saja akan tetapi semuanya melalui tahapan dari awal hingga akhir ritual.

Seperti yang dikemukakan diatas bahwa Ritual Sabung Ayam DAB”BA akan dilakukan  pada besok hari setelah bulan purnama maka semua persiapan akan dilakukan pada hari ketika bulan purnama.

Pada hari purnama seluruh rumah adat akan dibersihkan untuk kegiatan ritual pada malam hari.  Kegiatan pembersihan tersebut akan dilakukan pada sore hari dan dilanjutkan dengan kegiatan pembersihan rumah adat serta memegari rumah adat dengan duri dengan tujuan mensterilakn lokasi rumah adat dari seluruh hewan serta manusia yang melewati tempat tersebut sehingga orang dilarang untuk melewati lokasi rumah adat yang telah dipagari oleh duri tersebut, ritual ini dalam bahasa Sabu disebut dengan  LABA ADA.

Setelah melakukan kegiatan LABA ADA maka akan dilanjutkan dengan ritual HAPPU RA’KA yaitu pembersihan terhadap alat-alat yang akan digunakan dalan ritual Sabung Ayam DAB”BA berupa tombak, pisau, parang, pedang serta pisau yang akan dipakai untuk di ikat  ke kaki ayam yang akan disabungkan.

Setelah ritual HAP”PU RA”KA maka  sekitar jam 12 malam akan dilanjutkan dengan Ritual URI yang dilakukan oleh ROHI LODO (berkedudukan sebagai panglima perang), MAUKIA (asisten panglima yang bertugas mengatur strategi perang) dan PIGA RAI (berkedudukan sebagai tokoh perempuan yang akan mempersiapkan makan minum bagi panglima perang ketika pulang dari medan pertempuran) yaitu memanjatkan doa dan mempersembahkan sesajian kepada para leluhur dengan  tujuan untuk meminta petunjuk, meminta keberuntungan dan kemenangan ketika besok hari mengikuti  kegiatan Sabung Ayam DAB”BA, selain meminta keberuntungan mereka juga akan mendoakan para lawannya agar mereka mendapat malapetaka serta kekalahan. 

Setelah ritual URI selesai, maka ROHI LODO, MAUKIA dan PIGA RAI  akan memanggil seluruh peserta yang akan mengikuti kegiatan Sabung Ayam DAB”BA untuk berkumpul dihalaman rumah adat  dan melakukan kegiatan HODA yang dipimpin oleh MONE HODA.

HODA merupakan sala satu tahapan pada upacara DAB”BA untuk memanjatkan doa kepada para leluhur melalui syair-syair lagu yang dinyanyikan dan dipimpin oleh beberapa orang yang di sebut MONE HODA dan dilanjutkan secara bersahut-sahutan oleh semua peserta yang ada.

Tujuan dari pada HODA hampir sama dengan tujuan URI, akan tetapi URI hanya dilakukan oleh ROHI LODO, MAUKIA dan PIGA RAI sedangkan HODA semua peserta dilibatkan dalam mengucapkan doa-doa pada leluhur serta melalui nyanyian, setelah tahapan HODA selesei maka semua peserta akan dipersilahkan untuk tidur dan berakhirlah tahapan kegiatan malamnya.

Semua ritual mulai dari LABA ADA, HAP”PU RAK”KA hingga URI dilakukan di hari purnama sedangkan kegiatan HODA dilakukan pada sekitar jam 1 dini hari.

Pada hari pertama penyelenggaraan sabung ayam DAB”BA yaitu hari setelah bulan purnama maka semua peserta akan berkumpul di rumah adat masing-masing dan ROHI LODO, MAUKIA dan PIGA RAI akan mengistruksikan semua peserta untuk mandi.

Perlu diketahui bahwa ada yang unik dari cara mandi peserta ritual Sabung ayam DAB’BA dengan cara mandi kita sehari-hari yaitu para peserta diharuskan untuk mandi tanpa busana atau mandi telanjang serta dilarang untuk membasahi rambutnya bahkan memakai sabun mandi karena sesuai keyakinan adat setempat bahwa jika aturan itu dilanggar maka akan membawa sial bagi kelompok (ADA) mereka sehingga mereka akan mengalami kekalahan.

Seusai mandi, maka semua peserta akan kembali ke rumah adat untuk makan bersama dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke arena (DARA NADA).

Pada saat makan bersama semua peserta hanya diperbolehkan memakan nasi kosong  dengan lombok (cabai) dan garam dan dilarang untuk makan dengan lauk pauk lainya karena keyakinan mereka sama seperti keyakinan pada aturan mandi.

Setelah semua peserta selesai makan, maka mereka akan berpakian adat lengkap untuk bersiap-siap untuk berangkat ke arena. ROHI LODO, MAUKIA, dan PIGA RAI akan menginstruksikan kepada semua peserta untuk buang air besar dan kecil  karena setelah itu maka semua peserta akan dilarang untuk makan minum serta  buang air sejak berangkat dari Rumah Adat ke arena Sabung Ayam Adat (DARA NADA) hingga  kembali lagi ke rumah adat karena sesuai keyakinan bahwa jikalau aturan tersebut dilanggar oleh para peserta  akan membawa sial dan kekalahan bagi kelompok (ADA) mereka bahkan bagi peserta itu secara individu dia akan mendapat malapetaka dalam hidupnya.

Tahapan selanjutnya yaitu ROHI LODO, MAUKIA dan PIGA RAI akan berdoa dan mempersembahkan sesajian dalam bahasa Sabu biasa di sebut UDU NGA”A NGA GATI NGA”A  pada tiang induk rumah adat (TAR”RU DURU) dan mereka akan keluar ke halaman rumah adat  yang telah dipagari oleh duri untuk menghitung semua peserta yang hadir dan yang akan mengikuti ritual adat DAB”BA.

Selanjutnya ketika semuanya sudah lengkap maka MAUKIA, ROHI LODO , PIGA RAI serta beberapa peserta yang lain akan melakukan ritual KEREI WANGO pada tiang induk rumah adat (TARRU DURU).

Dalam Tahapan KEREI WANGO ini akan dilakukan doa kepada leluhur untuk meminta petunjuk terakhir apakah kelompok atau ADA mereka yang akan menang ataukah pihak musuh yang menang dahulu ketika pelepasan ayam pertama.

Dalam tahapan ini, ROHI LODO akan menancapkan tombak pada tiang induk  (TARRU DURU) rumah adat, setelah mendapat petujuk maka tombak itu akan dicabut kembali dan mereka akan keluar dari rumah adat untuk berkumpul dihalaman rumah adat.

Ketika tahapan KEREI WANGO telah dilakukan maka semua peserta akan duduk berjejer membentuk satu barisan dan akan bangun serentak ketika ROHI LODO memberikan aba-aba untuk jalan.

Pada posisi barisan tersebut yang berdiri paling depan serta memegang tombak adalah ROHI LODO,  posisi ke dua adalah  MAUKIA sebagai asistennya, posisi ke tiga dan seterusnya adalah peserta yang lainya.

Pada saat ROHI LODO memberikan aba-aba untuk jalan maka semuanya akan berjalan sesuai dengan barisan dan posisi masing – masing.

Perlu diketahui bahwa ketika para kelompok (ADA)  berjalan dari rumah adat menuju arena (DARA NADA) , siapapun dilarang melintasi jalan yang akan mereka lalui  karena sesuai keyakinan adat  apabila aturan itu dilanggar maka akan membawa sial dan kekalahan bagi ADA mereka, begitu pula bagi orang yang melanggar itu secara individu akan  mendapat sanksi dari tokoh adat serta akan  mendapat malapetaka dalam hidupnya.

Sesampainya di arena Sabung ayam (DARA NADA)  maka semua kelompok (ADA) tidak diperbolehkan duduk selama semua kelompok atau ADA belum sampai di arena (DARA NADA) dan  menunggu instruksi dari DEO untuk duduk barulah semua kelompok atau  ADA duduk.

Kegiatan Sabung ayam pertama akan di mulai dengan pelepasan ayam pertama antara kubu atas dan kubu bawa, kubu atas akan diwakili oleh kelompok atau ADA DAB”BA melawan kubuh bawa yang diwakili oleh kelompok atau ADA EIKO, setelah itu baru kelompok atau ADA yang lainya diperbolehkan untuk melakukan pelepasan ayam antar kelompok atau ADA sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Selain pelarangan untuk makan minum serta buang air selama berada di arena (DARA NADA)  para peserta juga dilarang untuk melakukan taruhan dalam bentuk apapun sehingga hal inilah yang membedakan Sabung ayam DAB”BA dengan sabung ayam yang sering  kita jumpai ditempat lain.

Ketika kegiatan Sabung ayam DAB”BA telah dinyatakan berakhir, maka semua peserta akan kembali ke rumah adat masing-masing dan sesampainya di rumah adat maka semua ayam yang menang akan diberi nama, selanjutnya akan dilanjutkan dengan  acara pemotongan hewan serta makan bersama  sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Demikian sejarah dan tahapan singkat ritual adat DAB”BA.

Berita terkait
Kategori : Opini, Tanggal Post : Tue, 17 May 2016 22:30:26 PM, Kontributor : TIM, Dibaca : 1119 Kali.
Tinggalkan Komentar :
Komentar yang masuk untuk berita ini [ 0 ]
Isi komentar anda :
Nama :
e-Mail :
Website : http:// (Opsional)
Komentar anda :
Maksimal 200 karakter
Kode Security :
Reload Image
Ulangi kode diatas